Lompat ke konten utama

DIFITECH – Digital Marketing Agency

Peran Data dan Analitik dalam Meningkatkan Strategi Digital Marketing

Peran data dan analitik dalam meningkatkan strategi digital marketing

Di era digital saat ini, persaingan bisnis semakin ketat dan perilaku konsumen dapat berubah dengan cepat. Karena itu, perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan intuisi atau pengalaman ketika menentukan strategi pemasaran. Data dan analitik menjadi salah satu fondasi penting untuk memahami apa yang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi, serta tindakan apa yang sebaiknya dilakukan selanjutnya.

Peran data dan analitik dalam digital marketing adalah membantu perusahaan memahami audiens, mengukur efektivitas kampanye, menemukan pola perilaku konsumen, mengoptimalkan anggaran pemasaran, serta mengambil keputusan berdasarkan data sehingga strategi marketing dapat menjadi lebih efektif dan terukur.

Dengan memanfaatkan data yang tepat, perusahaan dapat mengetahui channel pemasaran mana yang menghasilkan performa terbaik, konten apa yang menarik perhatian audiens, bagian mana dari customer journey yang menghambat konversi, hingga strategi apa yang memberikan kontribusi lebih besar terhadap tujuan bisnis.

Artikel ini akan membahas peran penting data dan analitik dalam meningkatkan strategi digital marketing, mulai dari jenis data, proses analisis, KPI yang perlu diperhatikan, hingga penerapannya dalam konten, iklan, pengalaman pengguna, dan pengambilan keputusan bisnis.

Apa Itu Data dan Analitik dalam Digital Marketing?

Data adalah fakta atau informasi yang dikumpulkan dari aktivitas pemasaran dan interaksi konsumen. Contohnya adalah jumlah kunjungan website, sumber traffic, pencarian di Google, klik iklan, interaksi media sosial, leads, transaksi, hingga data pelanggan.

Sementara itu, analitik adalah proses mengolah, membandingkan, dan menginterpretasikan data tersebut untuk menemukan pola, memahami penyebab suatu kondisi, serta menghasilkan insight yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Artinya, memiliki data dalam jumlah besar belum tentu memberikan manfaat bagi perusahaan. Nilai data muncul ketika perusahaan mampu menghubungkan data tersebut dengan tujuan bisnis dan mengubahnya menjadi tindakan yang dapat meningkatkan performa marketing.

Contohnya, mengetahui bahwa sebuah campaign mendapatkan 10.000 klik hanyalah informasi. Analitik dimulai ketika perusahaan mencari tahu siapa yang melakukan klik, dari campaign mana mereka berasal, berapa yang melakukan conversion, berapa yang menjadi qualified lead, dan apakah akhirnya menghasilkan pelanggan.

Mengapa Peran Data dan Analitik Penting dalam Digital Marketing?

Pemanfaatan data dan analitik membantu perusahaan mengurangi keputusan pemasaran yang hanya didasarkan pada asumsi. Dengan data yang tepat, strategi dapat dievaluasi berdasarkan apa yang benar-benar terjadi di lapangan.

Potensi tersebut juga terlihat dalam riset Google bersama Boston Consulting Group (BCG) mengenai pemanfaatan first-party data. Dalam penelitian tersebut, brand yang menerapkan setidaknya satu dari empat praktik aktivasi first-party data tingkat lanjut mencatat peningkatan revenue hingga 1,5 kali dibandingkan brand yang tidak menerapkannya. Brand yang menerapkan seluruh praktik tersebut mencatat peningkatan hingga 2,9 kali.

Sumber: Google & Boston Consulting Group – Responsible Marketing with First-Party Data.

Temuan tersebut tidak berarti data secara otomatis meningkatkan pendapatan. Data baru memberikan nilai ketika dapat digunakan untuk menghasilkan segmentasi, targeting, personalisasi, measurement, dan keputusan yang lebih baik.

Beberapa manfaat utama data dan analitik dalam digital marketing meliputi:

  • Memahami audiens secara lebih mendalam: data membantu perusahaan mengetahui karakteristik, kebutuhan, perilaku, dan pola interaksi audiens dengan brand.
  • Membuat segmentasi yang lebih relevan: audiens dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik, perilaku, minat, riwayat transaksi, maupun tahap dalam customer journey.
  • Mengoptimalkan kampanye pemasaran: marketer dapat mengetahui campaign, channel, keyword, creative, audience, atau landing page mana yang memberikan performa lebih baik.
  • Meningkatkan efisiensi anggaran: budget dapat dialokasikan berdasarkan data performa sehingga perusahaan dapat mengurangi pengeluaran pada aktivitas yang tidak efektif.
  • Meningkatkan pengalaman pengguna: data perilaku dapat membantu perusahaan menemukan hambatan pada website, aplikasi, landing page, maupun proses pembelian.
  • Mendukung personalisasi: data preferensi dan perilaku dapat membantu perusahaan menyampaikan pengalaman, konten, dan penawaran yang lebih relevan.
  • Mendukung peningkatan ROI: perusahaan dapat menghubungkan investasi pemasaran dengan hasil yang diperoleh dan memprioritaskan aktivitas yang memberikan kontribusi terbaik terhadap tujuan bisnis.

Data Juga Membantu Personalisasi Marketing

Salah satu pemanfaatan data yang semakin penting dalam digital marketing adalah personalisasi. Dengan memahami perilaku dan kebutuhan konsumen, brand dapat menyesuaikan pesan, penawaran, rekomendasi, maupun pengalaman yang diberikan kepada kelompok audiens yang berbeda.

Menurut McKinsey, perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat memperoleh sekitar 40% lebih banyak revenue dari aktivitas personalisasi dibandingkan perusahaan dengan pertumbuhan yang lebih lambat. Hal ini menunjukkan potensi ekonomi yang besar ketika data pelanggan mampu diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih relevan.

Sumber: McKinsey & Company – What Is Personalization?.

Namun, personalisasi tidak berarti mengumpulkan sebanyak mungkin informasi pelanggan. Penggunaan data tetap harus memiliki tujuan yang jelas serta memperhatikan privasi dan ketentuan pelindungan data.

Jenis Data yang Digunakan dalam Digital Marketing

Digital marketing dapat menghasilkan data dari berbagai sumber. Jenis data yang perlu digunakan akan bergantung pada tujuan analisis dan keputusan yang ingin diambil.

1. Data Demografi

Data demografi mencakup informasi seperti kelompok usia, lokasi, jenis kelamin, maupun karakteristik audiens lainnya yang tersedia dan dapat digunakan secara sah.

Data ini dapat membantu marketer memahami siapa yang melihat atau berinteraksi dengan sebuah campaign sehingga segmentasi audiens dapat dilakukan dengan lebih tepat.

2. Data Perilaku

Data perilaku menggambarkan bagaimana pengguna berinteraksi dengan aset digital perusahaan, misalnya:

  • halaman website yang dikunjungi;
  • sumber traffic;
  • klik pada tombol tertentu;
  • produk atau layanan yang dilihat;
  • video yang ditonton;
  • form yang diisi;
  • interaksi dengan iklan;
  • hingga proses pembelian yang diselesaikan.

Data tersebut sangat berguna untuk memahami customer journey dan menemukan tahapan yang perlu dioptimalkan.

3. Data Preferensi

Data preferensi menunjukkan kebutuhan, minat, atau pilihan konsumen. Informasi ini dapat diperoleh melalui survei, formulir, feedback pelanggan, pilihan yang diberikan pengguna, maupun interaksi langsung dengan brand.

4. Data Transaksi

Data transaksi mencakup informasi seperti produk yang dibeli, frekuensi transaksi, nilai transaksi, waktu pembelian, metode transaksi, hingga pola pembelian ulang.

Data tersebut dapat digunakan untuk memahami kontribusi pelanggan terhadap bisnis serta membantu mengembangkan strategi retention, cross-selling, up-selling, dan repeat purchase.

5. Data Performa Marketing

Data performa marketing berasal dari aktivitas seperti SEO, Google Ads, social media advertising, email marketing, marketplace, maupun channel digital lainnya.

Contohnya adalah:

  • impressions;
  • reach;
  • clicks;
  • CTR;
  • engagement;
  • cost;
  • leads;
  • conversion rate;
  • revenue;
  • ROAS;
  • dan ROI.

6. Data Internal Perusahaan

Data yang bernilai untuk digital marketing tidak selalu berasal dari Google Analytics atau platform iklan. Data internal perusahaan seperti penjualan, CRM, customer service, produk dengan margin terbaik, riwayat pelanggan, hingga alasan calon pelanggan tidak melakukan pembelian dapat memberikan insight yang sangat penting.

Ketika data marketing digabungkan dengan data internal bisnis, perusahaan dapat mengevaluasi bukan hanya berapa banyak traffic atau leads yang diperoleh, tetapi juga kualitas dan nilai bisnis dari traffic tersebut.

Bagaimana Analisis Data Internal Perusahaan Membantu Merancang Strategi Promosi yang Efektif?

Analisis data internal perusahaan dapat membantu merancang strategi promosi yang lebih efektif karena keputusan pemasaran dapat dibuat berdasarkan kondisi bisnis, perilaku pelanggan, dan hasil penjualan yang sebenarnya.

Misalnya, data penjualan dapat dibandingkan dengan sumber leads untuk mengetahui channel yang menghasilkan pelanggan berkualitas. Data CRM dapat digunakan untuk melihat karakteristik pelanggan yang paling sering melakukan pembelian, sedangkan informasi dari customer service dapat menunjukkan pertanyaan, kebutuhan, dan keberatan yang sering disampaikan calon pelanggan.

Dari analisis tersebut, perusahaan dapat menentukan:

  • produk atau layanan yang perlu lebih diprioritaskan;
  • segmen pelanggan yang memiliki potensi lebih tinggi;
  • channel pemasaran yang menghasilkan customer berkualitas;
  • pesan promosi yang lebih relevan;
  • periode promosi yang lebih tepat;
  • masalah pelanggan yang perlu dijawab melalui konten;
  • serta anggaran yang sebaiknya dialokasikan pada setiap channel.

Karena itu, evaluasi digital marketing sebaiknya tidak berhenti pada impressions, clicks, atau jumlah leads. Data perlu dihubungkan dengan apa yang terjadi setelah calon pelanggan masuk ke dalam proses penjualan.

Baca Juga :  Mengatasi Kesalahan Umum dalam Edit Foto Produk

Cara Mengumpulkan Data dalam Digital Marketing

Perusahaan dapat mengumpulkan data melalui berbagai touchpoint digital. Berikut beberapa sumber yang umum digunakan.

Google Analytics 4

Google Analytics 4 atau GA4 dapat digunakan untuk memahami aktivitas pengguna pada website maupun aplikasi melalui sistem berbasis event.

Interaksi yang sangat penting bagi keberhasilan bisnis dapat ditandai sebagai key event. Contohnya dapat berupa pembelian, pengiriman form, pendaftaran, atau tindakan penting lainnya sesuai objective bisnis.

Menurut dokumentasi Google Analytics, key event merupakan event yang mengukur tindakan yang dianggap sangat penting terhadap keberhasilan bisnis.

Sumber: Google Analytics Help – About Key Events.

Google Search Console

Google Search Console dapat digunakan untuk menganalisis performa website di Google Search, termasuk query pencarian, impressions, clicks, CTR, dan halaman yang memperoleh visibilitas organik.

Data tersebut sangat berguna untuk mengevaluasi apakah suatu halaman mengalami pertumbuhan atau justru kehilangan performa pada pencarian tertentu.

Platform Iklan Digital

Google Ads, Meta Ads, TikTok Ads, dan berbagai platform periklanan lainnya menyediakan data mengenai impressions, reach, clicks, biaya iklan, conversion, audience, keyword, placement, dan creative.

Data dari platform iklan dapat digunakan untuk melakukan optimasi, tetapi sebaiknya tidak dianalisis secara terpisah dari kualitas leads maupun hasil bisnis.

Media Sosial

Instagram, Facebook, TikTok, LinkedIn, YouTube, X, serta platform lainnya menyediakan data seperti reach, impressions, views, engagement, follower growth, dan karakteristik audiens.

Email Marketing

Email marketing dapat menghasilkan data seperti delivery rate, open rate, click-through rate, unsubscribe rate, serta conversion yang terjadi setelah pengguna berinteraksi dengan email.

CRM dan Data Penjualan

CRM membantu perusahaan mengetahui apa yang terjadi setelah leads masuk. Hal ini penting karena campaign yang menghasilkan banyak leads belum tentu menghasilkan pelanggan dengan kualitas yang sama.

Dengan menghubungkan campaign dan CRM, perusahaan dapat menganalisis metrik yang lebih dekat dengan hasil bisnis seperti qualified leads, opportunity, conversion menjadi pelanggan, customer acquisition cost, dan revenue.

Survei dan Kuesioner

Survei dan kuesioner dapat digunakan untuk mendapatkan informasi yang tidak selalu terlihat melalui analytics, seperti alasan pelanggan memilih produk, hambatan sebelum membeli, tingkat kepuasan, preferensi, dan kebutuhan yang belum terpenuhi.

Analitik: Mengubah Data Menjadi Insight yang Bisa Digunakan

Agar data dapat menghasilkan keputusan, perusahaan perlu melakukan analisis berdasarkan pertanyaan yang jelas. Secara umum, analitik dapat dibagi menjadi beberapa jenis berikut.

1. Descriptive Analytics: Apa yang Terjadi?

Descriptive analytics menggambarkan kondisi atau performa yang telah terjadi.

Contohnya:

  • berapa traffic website bulan ini;
  • berapa leads yang diperoleh;
  • berapa conversion yang terjadi;
  • campaign mana yang menghasilkan penjualan terbanyak;
  • atau artikel mana yang mengalami peningkatan impressions.

2. Diagnostic Analytics: Mengapa Hal Itu Terjadi?

Diagnostic analytics mencoba menemukan penyebab dari perubahan performa.

Misalnya, traffic SEO menurun. Marketer kemudian dapat menganalisis apakah penurunan tersebut disebabkan oleh berkurangnya impressions, perubahan ranking, CTR yang turun, perubahan search demand, atau hilangnya visibilitas pada query tertentu.

3. Predictive Analytics: Apa yang Kemungkinan Akan Terjadi?

Predictive analytics menggunakan data historis dan pola tertentu untuk memperkirakan kemungkinan di masa mendatang.

Contohnya adalah memperkirakan pelanggan yang kemungkinan melakukan pembelian kembali, potensi churn, atau produk yang kemungkinan memiliki permintaan lebih tinggi pada periode tertentu.

4. Prescriptive Analytics: Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Prescriptive analytics menggunakan hasil analisis untuk membantu menentukan tindakan berikutnya.

Misalnya, meningkatkan budget pada campaign yang menghasilkan qualified leads terbaik, memperbaiki landing page dengan traffic tinggi tetapi conversion rendah, atau memperbarui konten yang kehilangan impressions untuk query penting.

Proses data analytics dalam digital marketing dari data hingga optimasi
Proses data analytics dalam digital marketing dimulai dari pengumpulan data, analisis, insight, pengambilan keputusan, eksekusi, pengukuran, hingga optimasi berkelanjutan.

Cara Menggunakan Data untuk Meningkatkan Strategi Digital Marketing

Data sebaiknya tidak berhenti menjadi laporan bulanan. Perusahaan perlu memiliki proses yang menghubungkan data dengan tindakan.

  1. Tentukan tujuan bisnis. Tentukan terlebih dahulu apakah tujuan utamanya adalah meningkatkan awareness, traffic, leads, penjualan, retention, atau tujuan lainnya.
  2. Tentukan KPI yang relevan. Jangan menjadikan semua angka sebagai indikator utama. Pilih KPI yang memiliki hubungan paling jelas dengan tujuan.
  3. Kumpulkan data dari sumber yang dibutuhkan. Gunakan data website, iklan, Search Console, CRM, penjualan, customer service, maupun sumber lain yang relevan.
  4. Periksa kualitas data. Pastikan tracking berjalan dengan benar sehingga analisis tidak didasarkan pada data yang salah atau terduplikasi.
  5. Temukan pola dan masalah. Bandingkan periode, campaign, audience, channel, konten, keyword, maupun tahapan customer journey.
  6. Buat hipotesis. Tentukan dugaan penyebab suatu masalah dan tindakan yang kemungkinan dapat memperbaikinya.
  7. Lakukan optimasi atau pengujian. Terapkan perubahan secara terukur, termasuk menggunakan A/B testing jika memungkinkan.
  8. Evaluasi hasil. Bandingkan performa sebelum dan sesudah perubahan untuk mengetahui dampaknya.

Dengan proses tersebut, aktivitas digital marketing membentuk siklus yang berkelanjutan:

Data → Insight → Keputusan → Eksekusi → Pengukuran → Data Baru → Optimasi.

Bagaimana DIFITECH Menggunakan Data dalam Menentukan Strategi Digital Marketing?

Dalam praktik pengelolaan digital marketing, salah satu hal yang perlu dihindari adalah mengambil kesimpulan hanya dari satu metrik.

Berdasarkan pengalaman DIFITECH dalam menangani aktivitas digital marketing, traffic yang meningkat belum tentu menunjukkan bahwa keseluruhan strategi telah berhasil. Hal yang sama berlaku terhadap jumlah leads. Leads yang banyak tidak akan memberikan nilai maksimal jika mayoritas tidak sesuai target customer atau tidak berkembang menjadi peluang penjualan.

Karena itu, dalam melakukan evaluasi campaign, DIFITECH melihat data berdasarkan tahapan customer journey dan funnel secara lebih menyeluruh.

  1. Exposure: apakah campaign memperoleh impressions dan menjangkau target audiens yang tepat?
  2. Interaction: apakah pengguna tertarik melakukan klik, menonton, atau berinteraksi dengan campaign?
  3. Website atau landing page: apa yang dilakukan pengguna setelah memasuki halaman?
  4. Conversion: berapa banyak pengguna yang melakukan tindakan yang ditargetkan, seperti mengisi form, melakukan pembelian, atau menghubungi bisnis?
  5. Lead quality: apakah leads yang masuk sesuai dengan profil calon pelanggan yang ditargetkan?
  6. Business result: apakah leads tersebut berkembang menjadi opportunity, pelanggan, dan revenue?
Funnel analisis data digital marketing DIFITECH dari exposure hingga business result
DIFITECH menganalisis performa digital marketing dari exposure, interaction, landing page, conversion, lead quality, hingga business result agar keputusan tidak hanya berdasarkan satu metrik.

Pendekatan ini membantu menentukan di tahap mana masalah sebenarnya terjadi.

Misalnya, CTR yang rendah dapat menjadi sinyal bahwa targeting, keyword, creative, headline, atau pesan iklan perlu dievaluasi. Namun, ketika CTR sudah tinggi tetapi conversion rate rendah, masalahnya dapat berada pada bagian setelah klik, seperti landing page, penawaran, CTA, form, atau kesesuaian antara pesan iklan dan halaman tujuan.

Sementara itu, apabila campaign menghasilkan banyak leads tetapi sebagian besar tidak memenuhi kriteria target customer, masalahnya mungkin berkaitan dengan audience targeting, keyword, search intent, pesan promosi, atau proses kualifikasi calon pelanggan.

Karena itu, salah satu prinsip yang digunakan DIFITECH adalah tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan satu metrik secara terpisah. Data iklan, website analytics, Search Console, CRM, dan informasi penjualan perlu dipahami sebagai bagian dari satu customer journey.

Contoh Mengubah Data Menjadi Keputusan

Berikut contoh sederhana bagaimana suatu data dapat digunakan sebagai titik awal diagnosis dan menentukan analisis berikutnya.

Data yang Terlihat Kemungkinan Masalah Analisis atau Tindakan Berikutnya
Impressions tinggi, CTR rendah Targeting, keyword, headline, atau creative kurang relevan Evaluasi search intent, targeting, headline, visual, dan CTA
CTR tinggi, conversion rendah Landing page atau penawaran kurang sesuai dengan ekspektasi pengguna Evaluasi landing page, offer, form, CTA, dan customer journey
Traffic tinggi, leads rendah Traffic kurang relevan atau halaman belum mampu mendorong conversion Analisis sumber traffic, search intent, halaman tujuan, dan conversion path
Leads tinggi, qualified leads rendah Targeting terlalu luas atau intent audiens tidak sesuai Evaluasi audience, keyword, search terms, pesan iklan, dan proses kualifikasi
Traffic SEO turun Impressions, ranking, CTR, search demand, atau relevansi query berubah Bandingkan query, impressions, clicks, CTR, posisi, dan periode sebelumnya
Engagement tinggi tetapi sales rendah Konten menarik tetapi tidak cukup mengarahkan pengguna menuju conversion Analisis hubungan konten dengan funnel dan conversion path
Cost per lead rendah tetapi closing rendah Kualitas leads mungkin rendah Evaluasi cost per qualified lead, CAC, dan kualitas sumber leads
Baca Juga :  Inilah Caranya Optimasi SEO pada Video Marketing

Tabel tersebut bukan berarti satu perubahan metrik selalu memiliki satu penyebab tertentu. Data merupakan titik awal diagnosis. Marketer tetap perlu melakukan analisis tambahan sebelum mengambil keputusan.

Menggunakan Data dan Analitik untuk Mengoptimalkan Strategi Konten

Data dapat membantu perusahaan memastikan bahwa strategi konten tidak dibuat hanya berdasarkan asumsi mengenai apa yang mungkin disukai audiens.

Menentukan Topik yang Relevan

Data pencarian, performa artikel, pertanyaan calon pelanggan, Search Console, pencarian internal website, serta insight dari customer service dapat digunakan untuk menemukan topik yang benar-benar dicari dan dibutuhkan audiens.

Memantau Kinerja Konten

Perusahaan dapat membandingkan performa artikel, video, landing page, maupun postingan media sosial berdasarkan indikator yang sesuai dengan tujuan masing-masing konten.

Konten awareness, misalnya, tidak selalu tepat jika hanya dinilai berdasarkan penjualan langsung. Sebaliknya, landing page yang memang dibuat untuk menghasilkan leads perlu dianalisis berdasarkan conversion rate dan kualitas leads, bukan hanya jumlah pengunjung.

Menyesuaikan Konten dengan Preferensi Audiens

Data dapat menunjukkan format, topik, angle, headline, durasi, maupun call-to-action yang mendapatkan respons lebih baik dari audiens.

Insight tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki strategi konten berikutnya.

Menggunakan Data Google Search Console untuk Optimasi SEO

Dalam praktik SEO, data Google Search Console tidak sebaiknya hanya dilihat berdasarkan total clicks atau traffic secara keseluruhan.

DIFITECH biasanya membandingkan perubahan query, impressions, clicks, CTR, serta halaman yang memperoleh atau kehilangan visibilitas dalam periode tertentu.

Contohnya, ketika sebuah artikel mengalami penurunan traffic, penyebabnya belum tentu karena seluruh topik kehilangan minat pencarian. Analisis perlu dilakukan untuk mengetahui apakah:

  • impressions pada query utama menurun;
  • posisi pencarian berkurang;
  • CTR turun;
  • query tertentu kehilangan visibility;
  • search intent berubah;
  • atau kebutuhan informasi pengguna berkembang.

Insight tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan apakah artikel perlu diperbarui, pembahasan perlu diperdalam, search intent perlu diperjelas, topical coverage perlu ditambahkan, atau title dan meta description perlu dievaluasi.

Dengan pendekatan seperti ini, optimasi SEO tidak dilakukan hanya karena sebuah artikel terlihat mengalami penurunan traffic, tetapi berdasarkan data mengenai bagian mana yang benar-benar kehilangan performa.

Data dan Analitik dalam Iklan Berbayar atau Paid Advertising

Iklan berbayar seperti Google Ads maupun social media ads sangat bergantung pada data karena setiap aktivitas campaign menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk optimasi.

Targeting yang Lebih Tepat

Data dapat membantu perusahaan memahami segmen pengguna yang memberikan respons atau conversion terbaik sehingga targeting berikutnya dapat dibuat lebih relevan.

Optimasi Anggaran

Analitik memungkinkan marketer membandingkan biaya dan hasil antar-campaign, audience, keyword, placement, maupun creative.

Budget kemudian dapat dialokasikan dengan mempertimbangkan performa dan tujuan bisnis, bukan hanya berdasarkan campaign yang memperoleh traffic paling besar.

Optimasi Creative dan Pesan Iklan

CTR, engagement, conversion rate, dan hasil pengujian dapat membantu marketer memahami headline, visual, penawaran, serta CTA yang memberikan respons lebih baik.

Retargeting

Data interaksi pengguna memungkinkan perusahaan membedakan audiens baru dengan orang yang sebelumnya sudah mengunjungi website atau berinteraksi dengan bisnis.

Dengan demikian, pesan iklan dapat disesuaikan dengan tahapan customer journey masing-masing audiens.

Jangan Berhenti pada CTR dan Cost per Lead

Dalam pengelolaan digital advertising, salah satu pola yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara performa yang terlihat pada advertising platform dan hasil bisnis.

Sebuah campaign dapat memiliki CTR tinggi dan menghasilkan leads dengan biaya relatif rendah, tetapi belum tentu menghasilkan calon pelanggan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Karena itu, DIFITECH tidak menyarankan evaluasi iklan hanya berdasarkan CTR atau cost per lead.

Jika memungkinkan, data campaign perlu dianalisis hingga tahapan berikutnya seperti:

  • qualified leads;
  • cost per qualified lead;
  • sales opportunity;
  • closing rate;
  • customer acquisition cost;
  • dan revenue.

Sebagai contoh, ketika sebuah keyword menghasilkan banyak leads tetapi sebagian besar tidak sesuai dengan target bisnis, keputusan yang tepat belum tentu meningkatkan budget karena cost per lead terlihat murah.

Marketer justru perlu mengevaluasi search terms, search intent, targeting, pesan iklan, landing page, dan proses kualifikasi leads.

Sebaliknya, campaign dengan cost per lead lebih tinggi dapat memiliki nilai bisnis lebih baik apabila leads yang dihasilkan lebih relevan dan memiliki kemungkinan closing lebih tinggi.

Peran Penting Data dan Informasi dalam Meningkatkan Pengalaman Pengguna pada Aplikasi atau Platform Digital

Data dan informasi berperan penting dalam meningkatkan pengalaman pengguna atau user experience karena perusahaan dapat mengetahui bagaimana pengguna berinteraksi dengan website, aplikasi, maupun platform digital dan menemukan bagian yang menimbulkan hambatan.

Misalnya, perusahaan dapat menganalisis:

  • halaman yang sering ditinggalkan pengguna;
  • tahapan form yang tidak diselesaikan;
  • tombol yang jarang digunakan;
  • halaman dengan conversion rate rendah;
  • pencarian yang dilakukan pengguna;
  • hingga tahapan pembelian dengan drop-off tinggi.

Insight tersebut dapat digunakan untuk:

  • menyederhanakan customer journey;
  • memperbaiki navigasi;
  • meningkatkan relevansi konten;
  • menyesuaikan fitur dengan kebutuhan pengguna;
  • melakukan personalisasi;
  • dan mengurangi hambatan sebelum conversion.

Dengan demikian, peran data dalam user experience bukan hanya mengetahui berapa banyak pengguna yang datang, tetapi memahami pengalaman mereka dan menentukan perbaikan yang dapat memberikan dampak nyata.

Mengukur Kesuksesan Digital Marketing dengan Data dan Analitik

Salah satu manfaat utama digital marketing adalah banyaknya aktivitas yang dapat diukur. Namun, banyak data tidak selalu berarti measurement sudah dilakukan dengan benar.

Perusahaan perlu menentukan KPI berdasarkan objective yang ingin dicapai.

Tujuan Contoh KPI Insight yang Dicari
Brand Awareness Reach, impressions, video views Seberapa luas campaign menjangkau target audiens
Website Traffic Users, sessions, clicks, organic traffic Channel dan konten yang menghasilkan kunjungan
Engagement Engagement rate, CTR, interaction Seberapa baik audiens merespons konten
Lead Generation Leads, conversion rate, cost per lead Efisiensi campaign dalam menghasilkan calon pelanggan
Lead Quality Qualified leads, cost per qualified lead Kualitas calon pelanggan yang diperoleh
Sales Conversion, CAC, revenue, ROAS, ROI Kontribusi marketing terhadap hasil bisnis
Retention Repeat purchase, retention rate, CLV Kualitas dan nilai pelanggan dalam jangka panjang

Apa Perbedaan CTR, Conversion Rate, CAC, CLV, ROAS, dan ROI?

  • CTR (Click-Through Rate): persentase klik dibandingkan jumlah tayangan atau impressions.
  • Conversion Rate: persentase pengguna yang menyelesaikan tindakan yang ditargetkan berdasarkan basis pengukuran yang digunakan.
  • CAC (Customer Acquisition Cost): biaya rata-rata yang diperlukan untuk memperoleh seorang pelanggan baru.
  • CLV (Customer Lifetime Value): estimasi nilai yang diberikan pelanggan selama hubungan mereka dengan bisnis.
  • ROAS (Return on Ad Spend): perbandingan antara revenue yang dikaitkan dengan aktivitas iklan dan biaya advertising yang dikeluarkan.
  • ROI (Return on Investment): metrik untuk mengevaluasi hasil atau keuntungan dibandingkan investasi yang dikeluarkan.

Memahami perbedaan KPI tersebut penting agar perusahaan tidak salah mengambil kesimpulan.

Campaign dengan CTR tinggi belum tentu menghasilkan conversion tinggi. Conversion yang tinggi juga belum tentu menghasilkan profit optimal apabila biaya akuisisinya terlalu besar.

Dari Vanity Metrics ke Business Metrics

Salah satu kesalahan dalam membaca data digital marketing adalah terlalu fokus pada vanity metrics, yaitu angka yang terlihat positif tetapi belum tentu menggambarkan kontribusi terhadap tujuan bisnis.

Impressions, followers, views, traffic, dan jumlah leads tetap memiliki fungsi penting. Namun, metrik tersebut perlu dianalisis bersama indikator yang berada lebih dekat dengan hasil bisnis.

Supporting Metric Business Metric yang Perlu Dianalisis
Impressions Relevant reach, CTR, dan conversion
Website traffic Conversion rate dan qualified leads
Jumlah leads Qualified leads, opportunity, dan closing
Cost per lead Cost per qualified lead dan customer acquisition cost
Engagement Kontribusi terhadap customer journey dan conversion
Followers Relevant audience, engagement berkualitas, leads, dan conversion
Perbedaan vanity metrics dan business metrics dalam digital marketing
Vanity metrics seperti impressions, followers, CTR, video views, shares, dan page views perlu dianalisis bersama business metrics seperti qualified traffic, conversion rate, lead quality, close rate, revenue, dan ROI.

Dalam praktiknya, DIFITECH menggunakan metrik di bagian atas funnel sebagai indikator dan alat diagnosis, tetapi keberhasilan akhir tetap perlu dihubungkan dengan objective bisnis.

Baca Juga :  Website Company Profile: Pengertian dan 6 Manfaatnya Bagi Bisnis

Data yang besar belum tentu merupakan data yang paling penting. Data yang paling bernilai adalah data yang membantu perusahaan memahami kondisi dan mengambil keputusan yang lebih baik.

Jenis Data yang Membantu Blogger Mengukur Efektivitas Kampanye Pemasaran

Blogger maupun publisher juga dapat memanfaatkan data untuk mengetahui apakah konten dan aktivitas marketing yang dilakukan memberikan hasil sesuai tujuan.

Beberapa data yang dapat digunakan antara lain:

  • Organic traffic: menunjukkan kunjungan yang diperoleh dari pencarian organik.
  • Search impressions dan clicks: membantu melihat visibilitas konten pada hasil pencarian.
  • CTR: membantu mengevaluasi kemampuan judul, snippet, email, atau CTA dalam menghasilkan klik.
  • Conversion rate: mengukur persentase pengguna yang melakukan tindakan seperti mengisi form, membeli produk, berlangganan, atau mengklik link tertentu.
  • Engagement: memberikan informasi mengenai bagaimana pengguna berinteraksi dengan konten.
  • Revenue atau affiliate conversion: relevan apabila konten memiliki tujuan monetisasi langsung.

Hal yang paling penting adalah memilih metrik berdasarkan tujuan konten, bukan sekadar mengejar angka yang terlihat besar tetapi tidak memberikan dampak terhadap objective.

A/B Testing: Menggunakan Data untuk Membuktikan Hipotesis

A/B testing adalah metode membandingkan dua variasi untuk mengetahui versi mana yang memberikan performa lebih baik terhadap KPI tertentu.

Beberapa elemen digital marketing yang dapat diuji antara lain:

  • headline iklan;
  • visual atau creative;
  • CTA;
  • landing page;
  • form;
  • penawaran;
  • subject email;
  • dan struktur konten.

A/B testing sebaiknya dimulai dengan sebuah hipotesis.

Contohnya, apabila banyak pengguna membuka landing page tetapi hanya sedikit yang mengisi form, perusahaan dapat menguji apakah form yang lebih sederhana mampu meningkatkan conversion rate.

Hasil pengujian tersebut kemudian digunakan untuk menentukan apakah perubahan memang memberikan performa yang lebih baik dibandingkan versi sebelumnya.

Dengan pendekatan ini, optimasi dilakukan berdasarkan data hasil pengujian, bukan hanya berdasarkan preferensi pribadi.

Apa Peran Analitik Data dalam Bisnis Digital?

Analitik data tidak hanya digunakan untuk menilai campaign marketing. Ketika data marketing, sales, pelanggan, dan operasional dapat dihubungkan, insight yang diperoleh dapat mendukung keputusan bisnis yang lebih luas.

Analitik data dapat membantu bisnis digital untuk:

  • memahami perilaku pelanggan dan kebutuhan dari berbagai segmen;
  • mengidentifikasi tren melalui perubahan permintaan maupun perilaku konsumen;
  • mengoptimalkan strategi marketing dengan membandingkan performa antar-channel;
  • meningkatkan efisiensi dengan menemukan aktivitas yang menggunakan banyak sumber daya tetapi memberikan hasil rendah;
  • mengurangi risiko keputusan dengan menggunakan data sebagai salah satu dasar evaluasi;
  • meningkatkan customer experience melalui pemahaman terhadap perilaku dan feedback pelanggan;
  • serta menemukan peluang pertumbuhan dari pola yang sebelumnya sulit terlihat.

Pentingnya Kualitas Data dalam Digital Marketing

Analitik hanya dapat menghasilkan insight yang baik apabila data yang digunakan juga memiliki kualitas yang memadai.

Kesalahan tracking, data terduplikasi, parameter yang tidak konsisten, data yang tidak lengkap, maupun perbedaan definisi KPI dapat menyebabkan perusahaan menarik kesimpulan yang salah.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam menjaga kualitas data antara lain:

  • Akurasi: data harus semaksimal mungkin mencerminkan kondisi sebenarnya.
  • Kelengkapan: informasi penting yang diperlukan untuk melakukan analisis tidak boleh hilang.
  • Konsistensi: definisi KPI, struktur data, dan metode pengukuran perlu digunakan secara konsisten.
  • Aktualitas: data perlu cukup baru untuk mendukung keputusan yang akan diambil.
  • Validitas: data harus memenuhi aturan dan parameter pengukuran yang telah ditentukan.

Karena itu, strategi kualitas data sama pentingnya dengan penggunaan dashboard atau tools analytics. Dashboard yang terlihat lengkap tetap dapat menghasilkan keputusan yang salah apabila data di dalamnya tidak valid.

Tantangan dalam Menggunakan Data dan Analitik

Walaupun memberikan banyak manfaat, penerapan strategi digital marketing berbasis data memiliki sejumlah tantangan.

1. Data Terfragmentasi

Data perusahaan sering kali tersimpan pada banyak platform yang berbeda, misalnya Google Analytics, Google Ads, Meta Ads, CRM, marketplace, sistem penjualan, dan aplikasi internal.

Jika data tersebut dianalisis secara terpisah, perusahaan bisa kehilangan gambaran menyeluruh mengenai customer journey.

2. Kualitas Tracking

Tracking yang tidak dikonfigurasi dengan benar dapat menyebabkan angka yang digunakan dalam analisis tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Karena itu, validasi tracking perlu dilakukan sebelum data digunakan sebagai dasar keputusan penting.

3. Terlalu Banyak Metrik

Dashboard dengan puluhan atau bahkan ratusan metrik tidak selalu menghasilkan analisis yang lebih baik.

Perusahaan perlu memprioritaskan KPI yang memiliki hubungan paling kuat dengan tujuan bisnis.

4. Kemampuan Menginterpretasikan Data

Data tetap membutuhkan konteks. Marketer perlu memahami bisnis, target pasar, produk, customer journey, channel pemasaran, serta kondisi di balik perubahan angka.

Tanpa konteks tersebut, dua orang dapat melihat data yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

5. Privasi dan Pelindungan Data

Pengumpulan dan pengolahan data pelanggan harus dilakukan dengan memperhatikan privasi, keamanan data, tujuan penggunaan, serta ketentuan yang berlaku.

Untuk perusahaan yang beroperasi di Indonesia, pengelolaan data pribadi juga perlu memperhatikan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.

Sumber: JDIH Kementerian Komunikasi dan Digital – UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.

Data Tidak Menggantikan Strategi dan Pemahaman terhadap Konsumen

Walaupun data memiliki peran yang sangat penting, digital marketing tidak seharusnya hanya mengejar angka.

Data dapat menunjukkan pola yang terjadi, tetapi interpretasi tetap membutuhkan pemahaman mengenai konsumen, produk, kompetitor, positioning, kondisi pasar, dan tujuan bisnis.

Contohnya, konten dengan views tertinggi belum tentu menjadi konten yang paling banyak menghasilkan leads. Campaign dengan cost per lead paling murah juga belum tentu menghasilkan pelanggan terbaik.

Sementara itu, campaign yang terlihat kurang menarik jika hanya dibandingkan berdasarkan jumlah klik dapat memiliki nilai lebih tinggi apabila pengguna yang masuk memiliki intent dan kualitas yang lebih baik.

Karena itu, analisis sebaiknya dilakukan hingga ke metrik yang paling relevan dengan objective bisnis.

Pendekatan yang lebih tepat adalah menggabungkan data, analisis, pengalaman, pemahaman konsumen, dan eksperimen sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

Bagaimana Data Analytics Mendukung Strategi Digital Marketing yang Lebih Efektif?

Data analytics membantu menghubungkan aktivitas pemasaran dengan hasil yang diperoleh.

Dari proses tersebut, perusahaan dapat memahami apa yang perlu dipertahankan, dikurangi, diperbaiki, maupun diuji kembali.

Sebuah strategi digital marketing berbasis data sebaiknya tidak berhenti pada laporan mengenai traffic, impressions, atau engagement. Analisis perlu membantu menjawab pertanyaan yang lebih penting:

  1. Apa yang sedang terjadi?
  2. Mengapa hal tersebut terjadi?
  3. Apa dampaknya terhadap tujuan bisnis?
  4. Apa tindakan berikutnya yang paling masuk akal berdasarkan data?

Ketika pertanyaan tersebut dapat dijawab, data tidak lagi hanya berfungsi sebagai laporan, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan optimasi bisnis.

Kesimpulan

Peran data dan analitik dalam digital marketing adalah membantu perusahaan memahami audiens, mengevaluasi campaign, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, mengoptimalkan anggaran, memperbaiki customer experience, dan menghubungkan aktivitas pemasaran dengan hasil bisnis.

Namun, banyaknya data bukan merupakan tujuan akhir. Perusahaan perlu menentukan KPI yang relevan, memastikan kualitas data, menganalisis data sesuai konteks, lalu menerjemahkan insight menjadi tindakan yang dapat diuji dan dievaluasi.

Perusahaan juga sebaiknya tidak menilai performa hanya dari satu metrik seperti traffic, CTR, jumlah followers, atau cost per lead. Data dari berbagai tahapan customer journey perlu dilihat secara menyeluruh agar perusahaan dapat mengetahui masalah dan peluang dengan lebih tepat.

Pada akhirnya, strategi digital marketing yang efektif membentuk siklus berkelanjutan: mengumpulkan data, menemukan insight, membuat keputusan, menjalankan strategi, mengukur hasil, lalu menggunakan data baru untuk melakukan optimasi berikutnya.

Jika Anda mencari layanan jasa digital marketing yang efektif untuk membantu meningkatkan performa bisnis, DIFITECH menawarkan solusi digital marketing yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Kami adalah digital marketing agency Bekasi yang siap membantu brand mengembangkan strategi pemasaran secara lebih terukur dan berorientasi pada hasil.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Powered by Joinchat