Apa Perbedaan Strategi Digital Marketing B2B VS B2C?

Perbedaan Strategi Digital Marketing B2B VS B2C

Perbedaan Strategi Digital Marketing B2B VS B2C. Para penggiat bisnis pastinya tidak asing lagi dengan istilah business-to-customer (B2C) dan business-to-business (B2B). Sektor B2B mengincar sesama perusahaan lain sebagai konsumen, sedangkan B2C mengincar individu konsumen akhir.

Dalam penerapan strategi digital marketing, terdapat perbedaan signifikan antara keduanya. Bahkan beberapa orang menganggap jika strategi digital marketing untuk B2B cenderung lebih sulit dibandingkan B2C.

Ulasan berikut ini akan membahas seperti apa perbandingan strategi digital marketing B2B VS B2C.

Mengenal Industri B2B

Target konsumen dari industri B2B biasanya adalah perusahaan dan para pengambil keputusan penting di dalamnya, seperti stakeholder, Chief Executive Officer (CEO) atau lini manajerial.

Jenis konsumen seperti ini cenderung mencari solusi yang rasional dan menguntungkan, seperti yang bisa meningkatkan efisiensi atau menghemat biaya. Karena itu, pemasaran B2B cenderung bersifat profesional serta berfokus pada informasi teknis atau knowledge tentang produk dan jasa yang ditawarkan.

Meski begitu, individu pengambil keputusan di dalam suatu perusahaan cukup banyak. Oleh karenanya sales funnel dalam pemasaran digital untuk B2B jauh lebih panjang apabila dibandingkan dengan B2C.

Peranan strategi digital marketing untuk B2B berpusat pada peningkatan awareness dan memelihara relasi sesama pebisnis sebagai konsumen potensial. Tak heran bila platform LinkedIn sering digunakan untuk melakukan promosi.

Akan tetapi, beberapa perusahaan B2B kini juga menggunakan Instagram sebagai media promosi dikarenakan banyaknya jajaran petinggi di perusahaan yang berasal dari generasi millenial. Seperti yang diketahui, generasi millenial merupakan salah satu audiens terbesar di Instagram.

Beberapa metode promosi lain seperti email marketing dan webinar juga cukup sering dilakukan pada industrI B2B. Konten yang diunggah pada kanal media sosial dari perusahaan B2B umumnya bertema tentang informasi mengenai kebutuhan spesifik dari pelanggan.

Baca Juga :   Cara Meningkatkan Jangkauan Instagram Bisnis Anda

Mengenal Industri B2C

Industri B2C melibatkan transaksi antara perusahaan dan konsumen untuk keperluan pribadi atau orang terdekatnya.

Proses pengambilan keputusan konsumen B2C relatif singkat, membuat sales funnel dari B2C juga lebih pendek daripada B2B. Keputusan pembelian didasarkan pada emosi, keinginan, atau gaya hidup. Para konsumen tersebut juga sangat mempertimbangkan faktor kenyamanan atau status, harga serta reputasi merek.

Dari beberapa faktor itulah yang membuat strategi B2C condong menggunakan pendekatan kreatif dan emosional, menekankan pada citra dari brand dan pengalaman pelanggan.

Kanal media sosial yang digunakan untuk campaign sektor B2C jauh lebih variatif, mulai dari Facebook, Instagram, sampai Twitter. Hal ini dilakukan guna menjangkau konsumen potensial seluas-luasnya.

Campaign pemasaran digital untuk B2B turut serta menggandeng key opinion leader (KOL) dan influencer untuk memperkuat awareness dari brand. Jenis iklan berbayar seperti pay-per-click (PPC) juga digunakan untuk menargetkan audiens spesifik.

Mengingat target konsumen akhirnya adalah individu atau perorangan, jenis konten yang ditampilkan dalam media sosial B2C dibuat sekreatif mungkin supaya mampu menghibur dan mendorong sisi emosional untuk melakukan pembelian. Sehingga, konten B2C kerap menggunakan tren yang sedang beredar di internet (trend jacking).

Perbandingan Strategi Digital Marketing B2B dan B2C

Berikut adalah perbandingan digital marketing B2B VS B2C tersebut berdasarkan beberapa aspek utama.

  1. Audiens. Dalam B2B, audiens biasanya adalah perusahaan lain yang membutuhkan produk atau layanan untuk mendukung operasi mereka. Sebaliknya, B2C menargetkan konsumen individu yang mencari produk atau layanan untuk penggunaan pribadi.
  2. Tujuan. Tujuan utama B2B adalah membangun hubungan jangka panjang dan berkaitan dengan volume penjualan yang besar per transaksi. Lain halnya dengan yang berpusat pada transaksi cepat dengan pembelian dalam kapasitas yang sedikit bila dikomparasi dengan B2B.
  3. Sales Funnel. Sales funnel B2B sering kali lebih panjang dan kompleks, melibatkan banyak tahapan dan pembuat keputusan. Di sisi lain, B2C biasanya memiliki sales funnel yang pendek, dengan keputusan pembelian yang dibuat secara spontan atau berdasarkan emosi.
  4. Cara Pendekatan. B2B memerlukan pendekatan edukatif dan berbasis relasi profesional. Sebab, target audiensnya adalah pebisnis yang membutuhkan solusi atas masalah yang dihadapi dalam perusahaan. B2C cenderung menggunakan emosi dan gaya bahasa santai untuk menarik perhatian, lalu menarik konsumen untuk segera membeli produk atau jasa tersebut.
  5. Voice of Brand. Voice of brand yang digunakan oleh B2B perlu menunjukkan keahlian dan keandalan produk dan jasa yang dijual. Sedangkan dalam B2C, voice of brand yang dibentuk bisa lebih beragam. Biasanya voice of brand dari B2C tidak terlalu kaku dan mampu menghibur, tergantung pada produk atau layanan yang ditawarkan.
  6. Strategi Pembuatan Konten. Konten B2B sering kali fokus pada edukasi dan menunjukkan nilai penggunaan jangka panjang suatu produk atau layanan. Bisa dilihat contoh konten dari Tokoplas, yang merupakan marketplace B2B untuk bahan plastik keperluan industri. Konten yang dibuat oleh Tokoplas rata-rata terdiri dari product knowledge dan informasi lain yang berguna dalam manufaktur. Namun dalam strategi untuk B2C, pembuatan konten cenderung ringan, menghibur, dan dirancang untuk memicu respons emosional yang cepat. Contohnya saja pada salah satu brand mie instan dalam cup, Pop Mie. Target konsumen utama Pop Mie ialah anak muda yang memiliki aktivitas padat dan biasanya menggemari kultur pop dari negara tertentu. Maka, konten yang dibuat oleh Pop Mie memasukkan beberapa unsur kultur pop Jepang dengan sentuhan jenaka.
  7. Platform untuk Campaign. B2B cenderung menggunakan platform seperti LinkedIn dan webinar untuk menjangkau audiens yang terdiri dari para pebisnis. Meski begitu, Instagram pun sekarang juga mulai digunakan untuk campaign B2B demi meningkatkan awareness para pebisnis dari generasi millenial. Sementara kanal yang digunakan untuk B2C sangat beragam dan rata-rata merupakan media sosial yang populer, mulai dari Facebook, Instagram, dan TikTok.
Baca Juga :   Pentingnya Branding Bagi Entrepreneur

Konklusi

Berbagai macam perbedaan strategi digital marketing dalam B2B dan B2C memiliki tantangan dan keunikan tersendiri. Oleh karenanya, penerapan digital marketing dari tiap bisnis ini membutuhkan analisis mendalam guna menemukan strategi yang paling tepat.

Difitech dapat membantu bisnis Anda untuk meningkatkan kualitas campaign pemasaran lewat jasa digital marketing. Kami berpengalaman dalam membantu banyak klien, baik dari B2B maupun B2C. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut dan konsultasikan kebutuhan bisnis Anda.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
DIFITECH

Saat ini kami memiliki layanan untuk setiap bisnis yang ingin mengembangkan bisnis mereka dari Design dan Digital Dengan tim yang lengkap ,dapat memberikan setiap solusi untuk keperluan bisnis anda.

Social Media
Send
Apa ada yang bisa kami bantu?
Apa ada yang bisa kami bantu?